-
Referensi
- Bolognia JL, Schaffer JV, Cerroni L. Dermatology. 4th ed. Elsevier; 2017: Chapter 83.
- Halder RM, Nootheti PK. Clinical approaches to the management of hyperpigmentation. J Drugs Dermatol. 2003;2(1):31–36.
- Pichardo-Geisinger RO. Lentigo Maligna and Lentigo Maligna Melanoma. Dermatol Clin. 2019;37(1):153–162. doi:10.1016/j.det.2018.08.005.
- Davis EC, Callender VD. Postinflammatory Hyperpigmentation: A Review of the Epidemiology, Clinical Features, and Treatment Options in Skin of Color. J Clin Aesthet Dermatol. 2010;3(7):20–31.
- Masaki H. Role of antioxidants in the skin: anti-aging effects. J Dermatol Sci. 2010;58(2):85–94. doi:10.1016/j.jdermsci.2010.03.003.
- Hanna D, Babar K, Elmaraghy T. Management of Hyperpigmentation. StatPearls Publishing; 2024. Accessed September 10, 2025.
- Draelos ZD. The effect of niacinamide on reducing cutaneous pigmentation and suppressing an increase in pigmentation by ultraviolet irradiation. J Cosmet Laser Ther. 2006;8(1):8–16. doi:10.1080/14764170600582092.
Apa Itu Hiperpigmentasi Kulit?
Hiperpigmentasi adalah kondisi di mana tubuh memproduksi melanin secara berlebihan di area tertentu sehingga muncul bercak atau noda gelap pada kulit. Secara medis, hiperpigmentasi kulit adalah peningkatan pigmen melanin yang bersifat lokal, umumnya tidak berbahaya, namun dapat menjadi masalah estetika yang mengganggu.[1]
Produksi melanin ini dapat dipicu oleh paparan sinar matahari, perubahan hormon, peradangan, atau efek samping dari obat-obatan tertentu. Hiperpigmentasi bisa muncul di wajah, tangan, atau bagian tubuh lainnya, dan seringkali lebih terlihat pada individu dengan warna kulit lebih gelap.[2]
Jenis-jenis Hiperpigmentasi
Terdapat tiga jenis hiperpigmentasi kulit yang paling umum:
- Melasma: Bercak gelap simetris di area wajah seperti dahi, pipi, hidung dan atas bibir. Kondisi ini sering dipicu oleh perubahan hormon, seperti selama kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral, serta paparan sinar ultraviolet (UV).[3]
- Lentigo: Bintik matahari atau bintik penuaan berbentuk bintik-bintik kecil berwarna cokelat hingga hitam di area yang sering terkena sinar matahari seperti wajah, punggung tangan, dan lengan. Lentigo akibat paparan sinar matahari dikenal dengan istilah solar lentigo.[4]
- Post-Inflammatory Hyperpigmentation/PIH: Terjadi akibat peradangan atau cedera kulit, seperti jerawat, eksim, atau prosedur perawatan kulit seperti peeling dan laser. Setelah proses peradangan, kulit dapat menghasilkan melanin berlebih yang meninggalkan noda gelap meskipun luka sudah sembuh.[5]
Baca juga: Bagaimana Merawat Kulit Kering dan Apa Rekomendasi Sabun Cuci Muka untuk Kulit Kering?
Penyebab Hiperpigmentasi Kulit
Beberapa faktor dapat menyebabkan munculnya hiperpigmentasi kulit:
1. Paparan Sinar Matahari
Radiasi ultraviolet (UV) adalah penyebab paling umum hiperpigmentasi. Sinar UV menstimulasi sel melanosit untuk memproduksi lebih banyak melanin sebagai bentuk perlindungan alami kulit. Namun, jika berlebihan, hal ini dapat menyebabkan terbentuknya noda gelap.[⁶]
2. Perubahan Hormon
Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron dapat memicu melasma, terutama pada wanita hamil atau yang menggunakan kontrasepsi hormonal.[³]
3. Peradangan dan Cedera Kulit
Jerawat, eksim, atau tindakan seperti memencet luka dapat menimbulkan peradangan yang merangsang produksi melanin berlebih. Inilah penyebab utama PIH.[⁵]
4. Efek Samping Obat atau Bahan Kimia
Beberapa obat seperti antimalaria dan antibiotik tertentu dapat memicu reaksi fototoksik yang menyebabkan hiperpigmentasi.[2]
5. Faktor Genetik
Beberapa individu secara genetik lebih rentan terhadap produksi melanin berlebih, terutama mereka dengan tipe kulit lebih gelap.[1]
Cara Mengatasi Hiperpigmentasi Kulit dengan Tepat
Mengatasi hiperpigmentasi kulit membutuhkan kombinasi antara perlindungan dari sinar matahari dan penggunaan bahan aktif topikal yang telah terbukti secara ilmiah.
1. Gunakan Tabir Surya Setiap Hari
Perlindungan terhadap sinar matahari merupakan langkah paling penting. Gunakan tabir surya spektrum luas dengan SPF minimal 30 setiap hari, bahkan saat cuaca mendung. Ulangi pemakaian setiap dua jam jika beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan tabir surya secara rutin membantu mencegah noda semakin gelap dan munculnya flek baru.[6]
2. Pilih Bahan Aktif Pencerah Kulit yang Terbukti Efektif
- Retinoid (Retinol): Turunan vitamin A yang bekerja dengan mempercepat pergantian sel kulit (cell turnover) dan menghambat pembentukan melanin. Retinol juga membantu memperbaiki tekstur kulit dan menyamarkan noda gelap.[7]
- Niacinamide (Vitamin B3): Berfungsi sebagai antioksidan dan anti-inflamasi, serta membantu menghambat transfer melanin ke permukaan kulit. Selain itu, niacinamide dapat memperkuat skin barrier dan meningkatkan hidrasi kulit.[8]
- Asam Alfa Hidroksi (AHA) dan Beta Hidroksi (BHA): Kandungan seperti glycolic acid dan lactic acid berfungsi sebagai eksfolian kimia yang membantu mengangkat sel kulit mati berpigmen dan mempercepat regenerasi kulit baru yang lebih cerah.[6]
- Vitamin C, Asam Kojic, dan Arbutin: Bahan-bahan ini bekerja dengan menghambat enzim tirosinase, yaitu enzim utama yang berperan dalam pembentukan melanin, sehingga membantu mencerahkan kulit secara bertahap.[6]
3. Pertimbangkan Perawatan Dermatologis
Untuk kasus yang parah, dokter kulit dapat merekomendasikan prosedur seperti chemical peeling, terapi laser, atau mikrodermabrasi. Prosedur ini membantu mempercepat regenerasi kulit dan mengurangi noda gelap.[5]
Baca juga: Ini Lho Ciri-Ciri Skin Barrier Rusak yang Wajib Diketahui
Tips Mencegah Hiperpigmentasi Kulit
- Gunakan tabir surya spektrum luas dengan SPF minimal 30 setiap hari.
- Hindari kebiasaan memencet jerawat atau luka yang dapat menyebabkan peradangan.
- Gunakan produk perawatan yang menjaga kelembapan kulit agar skin barrier tetap kuat.
- Pilih produk non-komedogenik dan bebas pewangi untuk mengurangi risiko iritasi.
Solusi Hiperpigmentasi Kulit dari CeraVe
Pemilihan produk yang tepat sangat penting untuk membantu memudarkan noda gelap tanpa mengganggu fungsi alami skin barrier. Salah satu produk yang direkomendasikan adalah CeraVe Resurfacing Retinol Serum.
CeraVe Retinol Resurfacing Serum
Dikembangkan bersama dermatolog, CeraVe Resurfacing Retinol Serum diformulasikan khusus untuk membantu mengurangi tampilan noda bekas jerawat, meratakan warna kulit, serta memperbaiki tekstur kulit agar tampak lebih halus dan cerah.
Kandungan Utama:
- Retinol Enkapsulasi: Membantu mempercepat regenerasi kulit dan mengurangi tampilan noda gelap, dengan risiko iritasi yang lebih rendah.[7]
- 3 Ceramide Esensial: Membantu memperkuat skin barrier agar tetap lembap dan terlindungi dari iritasi.
- Niacinamide: Membantu menenangkan kulit serta memberikan efek mencerahkan alami
Formula ringan, tidak berminyak, bebas pewangi, bebas paraben, dan non-komedogenik, sehingga cocok untuk semua jenis kulit, termasuk kulit berminyak dan rentan berjerawat. Jika Anda memiliki kulit berjerawat, kombinasikan CeraVe Resurfacing Retinol Serum dengan moisturizer untuk kulit berjerawat.
Untuk hasil optimal, gunakan serum ini di malam hari dan selalu aplikasikan tabir surya di pagi hari. Jika baru memulai penggunaan retinol, aplikasikan 2–3 kali seminggu, kemudian tingkatkan secara bertahap sesuai toleransi kulit.
Dapatkan produk-produk CeraVe yang mengatasi hiperpigmentasi kulit di Official Store CeraVe Indonesia, Watsons, Guardian, dan di berbagai platform marketplace ternama seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada.